Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label teknologi pendidikan

Podcast tentang Masa Lalu

     Aku senang mendengarkan konten podcast, obrolan, atau wawancara yang dua tahun ini mulai menjamur di Youtube, bahkan juga platform lain. Mungkin dari sisi kreator membuat konten seperti ini dianggap lebih sederhana dan tidak butuh skenario dan peralatan yang bermacam-macam. Penting gambarnya ada, suaranya jelas, toh sebenarnya setiap orang punya sudut pandang atau cerita yang bisa digali dan dibagi. Kemampuan komunikasi tentu penting.      Entah sudah kehabisan bahan atau memang mengulik masa lalu itu menyenangkan. Banyak kreator, baik dalam format monolog ataupun dialog sering menyajikan kisah masa lalu yang menginspirasi, keren, penuh perjuangan, nakal, bahkan kriminal. Semua itu wajar dan memanglah bumbu kehidupan. Memang sepertinya mereka lebih sukses daripada kebanyakan yang menonton mereka, paling tidak lebih sukses dari diri mereka yang dulu.      Mungkin untuk beberapa orang, mengungkit masa lalu, atau lebih tepatnya keburukan d...

Membentuk Tim di Pasca Kiamat Zombie

Belajar Simulasi dari The Walking Dead Halo, selamat siang. Terimakasih sudah membuka blog ini. Kali ini kita masih akan belajar dari The Walking Dead . Berawal dari pertanyaan populer orang-orang yang mengikuti The Walking Dead, yaitu “Siapa saja yang akan kau jadikan tim ketika kiamat zombie?” Mungkin banyak dari kita akan memilih untuk bersama Daryl Dixon atau Rick Grimes. Mereka berdua kuat dan cerdik, mungkin kita akan aman dari serangan walker atau manusia jahat lain. Tapi apakah hanya mereka berdua yang kamu butuh? Bangun tidur, bunuh zombie, cuci muka, berburu, klaim ini klaim itu, ngumpet, gelut, api unggun, makan tupai, tidur, bangun, bunuh zombie, lanjut tidur. Oke kita aman, tapi tentu saja tidak semua orang nyaman dengan rutinitas seperti itu. Tidak ada manusia yang sempurna, dan sebagai makhluk sosial pada akhirnya kita butuh orang lain untuk bekerja sama. Contohnya Rick dan kawan-kawan “ Family Team ” sejak awal mereka memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda-...

The Sherlockian

Pengalaman membaca buku, subjektif J The Sherlockian , Memburu Pengakuan Rahasia Conan Doyle, merupakan sebuah buku yang ditulis oleh Graham Moore yang terbit pada tahun 2010. Tapi untuk versi bahasa Indonesia, buku ini diterbitkan oleh Bukune pada tahun 2013. Aku pribadi membeli buku ini sekitar setahun yang lalu, 2017. Memang saat itu aku sedang mengikuti Serial TV ‘Sherlock Holmes’ yang awalnya aku tahu cerita detektif yang deduktif ini melalui film-filmnya. Walau jujur, dulu aku   seperti butuh usaha yang lebih untuk benar-benar menikmati film Sherlock Holmes. Ya, semenjak aku jadi mahasiswa Teknologi Pendidikan. Menonton Sherlock Holmes itu bisa menghadirkan pengalaman mengesalkan –mengesankan- tersendiri. Di kuliah, aku dikenalkan dengan model pembelajaran memorization atau mnemonik, intinya tentang seni menghapal, yang mana di dalamnya juga ada cabang yang disebut sebagai Memory Palace . Kalau yang ngikutin Sherlock pasti tahulah istilah tersebut, yang kurang ...

Berbeda

Tidak seperti biasa, hari itu aku pulang sore. Bersama banyak orang lain yang juga pulang sore. Juga tidak seperti biasa, sore itu aku memutuskan untuk menggunakan jalur yang biasa digunakan banyak orang lain di sore hari. Ya benar jalannya ramai. Terlepas dari perasaanku yang kupikir sempat kacau hari itu. Awh, sepertinya aku memiliih melewati riuhnya jalan umum hanya karena aku pengen punya alasan untuk mengumpat di sore itu. Kupikir lagi keputusan untuk pulang sore bersama orang-orang umum di jalan yang umum kali itu adalah untuk menilai seberapa tidak umum aku dan apakah ketidakumumanku ini patut untuk dipertahankan. Dan ya, aku merasa bangga pada diriku. Ternyata jalan yang selama ini biasa aku gunakan untuk pulang merupakan jalan yang lebih nyaman untukku, tapi entah lebih cepat atau tidak. Toh secara waktu, aku juga jarang pulang berbarengan banyak orang lain pulang. Tapi ya, itu yang aku rasakan. Aku juga tidak ingin memaksa atau menyarankan banyak orang untuk men...

Urip iku Urup

Merupakan salah satu kalimat yang mulai kukenal dan sukai kurang lebih sejak aku semester 2. Aku kurang begitu paham tentang siapa yang mencetuskan kutipan keren ini, mungkin suatu saat kalau ada koneksi internet dan ingat bakal aku cari. Seingatku, aku suka kalimat ini setelah sedikit mempelajari tentang teori sosial Fungsional Struktural. Bahwa intinya “aku hidup jika aku memiliki peran (fungsi) di lingkunganku hidup”. Peran atau fungsi di sini bukan saja berarti peran sebagai orang baik atau pun pekerjaan dan perilaku baik lain yang bermanfaat bagi masyarakat. Tapi juga bisa berarti peran buruk yang sebenarnya juga menghidupkan suasana di masyarakat. Sosial. Ya tentu, seharusnya dengan pendidikan (karakter) sekarang, paling tidak kita tahu seperti apa peran yang baik dan perlu kita pilih untuk laksanakan. Sampai sini semoga sudah tahu maksud saya. Tapi santai, ini sekadar sudut pandang dan pengertianku tentang Fungsional Struktural yang menurutku baru dikit. Jadi kalau ad...

Apasih yang bisa Didapat dari Pengantar Filsafat Pendidikan

            Dalam UAS Pengantar Filsafat Pendidikan, saya mendapatkan soal tentang “Manfaat yang saya peroleh setelah mempelajari Pengantar Filsafat Pendidikan.” Berikut jawabannya...             Berhubung saya dari STM, di tingkat pendidikan sebelumnya saya belum pernah pempelajarai filsafat. Mungkin saya dulu bisa diklasifikasikan dalam golongan orang pembohong, suka mencontek, suka berkhayal, imajinasi, kurang suka kegiatan olahraga, sukanya menulis, menggambar, stand up comedy dengan banyak waktu dihabiskan di jalan. Hal-hal seperti itu sedikit banyak mempengaruhi diri saya untuk memikirkan sesuatu. Walau yang saya pikirkan kebanyakan adalah hal-hal sepele. Entah tentang mengapa saya melakukan sesuatu, membuat alasan, apa yang harus saya lakukan untuk tugas, bagaimana suatu pengalaman bisa diceritakan dengan lucu atau hal baik apa yang seharusnya saya lakukan.  ...